10 Film Korea yang Membahas Trauma Masa Lalu, Kisahnya Miris!

11 min read

man in black vest sitting on brown wooden chair

Belakangan ini, makin banyak film Korea yang berani ngulik soal trauma masa lalu dan kesehatan mental, dan kamu pasti ngerasain sendiri gimana topik ini relate banget sama hidup sehari-hari. Di daftar ini, you bakal diajak ngikutin karakter yang hidupnya hancur-pelan tapi kuat, yang bikin kamu mikir, “kalau itu kejadian ke you, sanggup gak?”. Beberapa judul malah diangkat dari kisah nyata, jadi feel-nya makin nusuk.

Why You Should Watch “Seobok”

Kalau kamu lagi nyari film yang bikin kamu mikir soal arti hidup, mati, dan trauma masa lalu, Seobok wajib masuk watchlist kamu. Di sini, kamu diajak ngikutin mantan intel yang sekarat dan manusia kloning yang hidup kekal, konflik batin mereka tuh relate banget sama rasa takut dan penyesalan yang mungkin juga kamu simpan. Film ini pelan-pelan nusuk ke emosi kamu, bikin kamu sadar kalau rasa takut kehilangan dan keinginan buat menebus masa lalu ternyata bisa sedalam itu.

Cloning and mortality

Bagian ini bakal bikin kamu otomatis mikir, kalau kamu bisa hidup selamanya seperti Seobok, beneran bakal bikin kamu bahagia atau malah tambah hancur? Konsep kloning dan keabadian di film ini gak cuma keren dari sisi sains, tapi juga nyentil kamu soal rapuhnya manusia yang umurnya terbatas. Kamu bakal ngerasain gimana karakter-karakternya berhadapan dengan takut mati, serakah, dan ego manusia yang pengin menguasai hidup orang lain, termasuk hidupmu kalau teknologi itu beneran ada.

A tearful farewell

Di bagian perpisahan ini, kamu bakal dipaksa ngeliat gimana rasa sayang dan trauma bisa ketemu di satu titik yang menyakitkan banget. Hubungan tokoh utama dengan Seobok pelan-pelan berubah dari sekadar misi jadi ikatan yang bikin kamu pengin mereka tetap bareng, padahal kamu tau hidup gak sebaik itu. Momen perpisahan mereka tuh tipe adegan yang bikin kamu diem beberapa detik, karena cara mereka merelakan satu sama lain kerasa sangat manusiawi dan pedih.

Perpisahan di Seobok penting buat kamu yang pernah ngerasa susah banget ngelepas seseorang, entah itu karena kematian, putus hubungan, atau cuma berpisah pelan-pelan tanpa sadar. Di adegan ini, kamu bakal ngeliat gimana karakter yang selama ini dingin, keras, dan kejarannya cuma soal bertahan hidup, akhirnya luluh karena ikatan emosional barunya dengan Seobok. Dan di titik itu, kamu mungkin bakal sadar, kadang melepaskan dengan air mata justru jauh lebih berani daripada terus-terusan berusaha menggenggam. Film ini kayak nyeplak ke kamu kalau rasa sakit di akhir hubungan gak selalu berarti kalah, tapi bisa jadi momen paling jujur antara kamu dan orang yang kamu sayang.

What’s Up with “Recalled”

Kamu bakal nyadar kalau Recalled itu tipe film yang bikin kamu meragukan semua yang kamu lihat di layar, bahkan sampai mikir ulang soal hidup kamu sendiri. Ceritanya ngikutin seorang perempuan yang kehilangan ingatan, lalu dihantam serangkaian visi masa depan yang bikin kamu gak bisa bedain mana yang nyata, mana yang cuma ada di kepalanya. Di balik semua itu, ada rahasia masa lalu yang gelap yang pelan-pelan diseret ke permukaan, dan di titik tertentu kamu bakal sadar: ingatan itu bisa jadi senjata paling berbahaya buat diri kamu sendiri.

Memory and hallucinations

Dalam Recalled, kamu diajak nyemplung ke kepala seseorang yang ingatannya berantakan dan dipenuhi halusinasi visual yang keliatannya kayak ramalan masa depan. Kamu bakal terus dipaksa bertanya, apa yang kamu lihat bareng tokoh utama itu beneran kejadian atau cuma permainan otak yang lagi rusak parah. Dan di situ letak seramnya – kalau kamu gak bisa percaya sama ingatan sendiri, lalu apa yang masih bisa kamu pegang?

Shadows of the past

Bayangin kamu hidup tenang, lalu tiba-tiba potongan masa lalu yang udah kamu kubur dalam-dalam mulai nongol lagi sebagai mimpi buruk berjalan, kurang lebih kayak gitu yang kamu rasain kalau ngikutin Recalled. Setiap adegan serasa nunjukin kalau trauma yang gak diselesaikan bakal terus ngikutin kamu, muncul dalam bentuk rasa takut, curiga, bahkan benci pada orang-orang terdekat kamu sendiri. Film ini bikin kamu sadar kalau masa lalu itu gak pernah benar-benar hilang, dia cuma bersembunyi, nunggu momen paling kejam buat balik lagi.

Di bagian Shadows of the past, kamu bakal pelan-pelan ngeliat gimana masa lalu tokoh utama ternyata penuh kebohongan, kekerasan emosional, dan keputusan-keputusan nekat yang terus membuntuti hidupnya kayak bayangan gelap yang nempel di belakang punggung. Setiap fragmen ingatan yang muncul bukan cuma potongan cerita, tapi juga pemicu serangan panik dan rasa bersalah yang numpuk sampai sesak. Yang bikin makin ngeri, orang-orang yang seharusnya jadi pelindung justru punya andil besar menciptakan lingkaran trauma yang beracun. Di titik ini kamu mungkin bakal refleksi, apakah kamu juga lagi nyimpen masa lalu yang suatu hari bisa balik dan ngerusak hidup kamu kalau gak kamu hadapi sekarang?

The Mystery of “Intruder”

Banyak orang ngira Intruder cuma thriller tentang orang asing yang numpang hidup di rumah keluarga kaya, padahal kamu bakal diajak ngulik luka batin yang jauh lebih kelam dari itu. Film ini pelan-pelan ngebongkar gimana trauma masa kecil bisa bikin hubungan keluarga retak, lalu kehadiran seorang perempuan misterius justru jadi pemicu semua ingatan buruk bermunculan lagi. Di titik tertentu, kamu bakal mikir, apakah kamu beneran bisa percaya orang yang ngaku keluargamu sendiri, atau justru dia adalah sumber ancaman terbesar buat kesehatan mental dan nyawamu.

A long-lost woman

Banyak yang mikir kalau akhirnya anggota keluarga yang hilang itu pulang, semuanya bakal jadi happy ending, kamu berkumpul lagi dan hidup rukun selamanya. Di Intruder, sosok perempuan yang hilang 25 tahun ini balik ke rumah seperti hadiah yang lama kamu tunggu, manis di permukaan tapi pelan-pelan terasa ganjil. Kamu diajak ngerasain gimana keluarga ini mencoba menerima kehadirannya, sementara rasa curiga, rasa bersalah, dan trauma masa lalu pelan-pelan bikin suasana rumah makin pengap.

Secrets revealed

Banyak penonton suka ngerasa mereka udah tahu rahasia utama film semenjak awal, seolah-olah pola twist-nya gampang banget ditebak. Di Intruder, setiap rahasia yang kebuka malah bikin kamu makin ragu sama intuisi sendiri, karena tiap petunjuk kecil tentang masa lalu keluarga ini saling tumpuk dan nunjuk ke arah yang berbeda. Kamu dipaksa milih: percaya pada cerita sang adik yang baru kembali, atau pada kecurigaan sang kakak yang makin terobsesi. Di sinilah efek gaslighting dan trauma lama jadi senjata psikologis yang, kalau kamu perhatiin baik-baik, terasa cukup dekat sama realita.

Dalam bagian Secrets revealed ini, kamu bakal ngerasa kayak lagi bongkar loteng rumah tua yang penuh kardus lusuh, tiap kotak rahasia di Intruder kebuka satu-satu dan isinya gak pernah sesederhana yang kamu kira. Semakin jauh kamu ngikutin jalan pikiran sang kakak, semakin jelas kalau ingatan masa kecilnya yang penuh rasa bersalah bikin dia gampang dipatahkan, gampang dibilang gila, dan itu bikin posisi kamu sebagai penonton ikut goyah. Di satu sisi, kamu pengin percaya kalau keluarga ini akhirnya bisa sembuh dari luka lama, tapi di sisi lain, bukti demi bukti nunjukin kalau ada manipulasi yang sangat berbahaya di balik senyum manis sang adik. Pada akhirnya, kamu diajak mikir, kalau rahasia masa lalu keluarga aja bisa dipelintir segila itu, seberapa yakin kamu sama versi kebenaran yang selama ini kamu pegang di hidupmu sendiri?

Get Ready for “The Closet”

Lagi ramai lagi ya film horor yang bukan cuma nakut-nakutin, tapi juga ngobrolin soal trauma dan depresi, nah “The Closet” masuk di jalur itu. Kamu bakal ngikutin seorang ayah yang hidupnya hancur setelah istrinya meninggal, lalu harus berhadapan dengan lemari misterius dan suara-suara yang bikin bulu kudukmu berdiri. Hubungan kamu dengan orang-orang tersayang mungkin bakal kepikiran banget setelah nonton, karena film ini nunjukin gimana rasa bersalah yang kamu pendam bisa berubah jadi sesuatu yang menghantui.

Grief and depression

Dari awal kamu udah diajak ngeliat gimana duka dan depresi bisa bikin seseorang jadi dingin, ketus, bahkan ke anaknya sendiri. Rasa kehilangan yang kebawa tiap hari bikin si tokoh utama terus-terusan lari dari kenyataan, dan di titik itu kamu mungkin bakal ngerasa, “iya sih, grief bisa segelap itu”. Film ini pelan-pelan nunjukin kalau emosi yang kamu pendam terus bisa jadi jurang yang menelan hubungan keluarga tanpa kamu sadar.

A haunting journey

Yang bikin kamu deg-degan di “The Closet” bukan cuma kemunculan hantu, tapi perjalanan batin si ayah saat dia dipaksa menghadapi masa lalu dan rasa bersalahnya sendiri. Tiap adegan di sekitar lemari kerasa kayak undangan buat kamu mikir, seberapa sering kamu nyimpen trauma di sudut tersembunyi hidupmu. Di tengah ketegangan, ada momen refleksi yang bikin kamu sadar kalau menghadapi rasa takut itu bisa jadi satu-satunya cara buat menyelamatkan orang yang kamu sayang.

Di bagian “A haunting journey” ini, kamu bakal dibawa dari ketakutan yang kelihatan ke hal-hal yang jauh lebih abstrak, kayak rasa penyesalan yang gak selesai dan luka batin yang kamu pura-pura lupa. Setiap gangguan supernatural di film ini sebenarnya jadi cermin, maksa kamu ngeliat gimana mengabaikan trauma bisa berubah jadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada hantu. Dan ketika si ayah mulai berani nyelam lebih dalam ke misteri lemari itu, kamu ngerasain sendiri bahwa perjalanan paling menakutkan sebenarnya bukan masuk ke rumah angker, tapi masuk ke sudut hati kamu yang paling gelap dan jujur.

Heartfelt “My Bossy Girl”

Trauma yang kamu bawa diam-diam kadang cuma butuh satu orang yang berani mendekat dan bilang, “kamu gak apa-apa kok”. Di My Bossy Girl, kamu bakal ngeliat gimana hubungan antara pemanah difabel dan mahasiswa teknik yang canggung banget ini pelan-pelan ngebongkar luka lama. Film ini bikin kamu mikir ulang soal cara kamu nge-judge diri sendiri, terutama ketika kamu ngerasa gak cukup baik cuma karena masa lalu yang berat.

Archery and dreams

Mimpi kamu yang dulu sempat kamu kubur dalam-dalam mungkin bakal kebayang lagi waktu nonton perjalanan si pemanah difabel di film ini. Di tengah keterbatasan fisik, dia masih ngejar panahan dengan tekad yang gila-gilaan, dan kamu bakal sadar kalau mimpi itu gak selalu mati cuma karena keadaan. Kadang kamu cuma perlu dukungan kecil, walau datangnya dari orang yang sikapnya nyebelin dan kaku, mirip banget sama karakter cowok di film ini.

Unresolved trauma

Luka yang gak pernah kamu omongin ke siapa-siapa itu, sebenarnya paling sering muncul di momen paling gak terduga, setuju gak? Di My Bossy Girl, baik pemanah difabel maupun mahasiswa teknik ini sama-sama nyimpen trauma masa lalu yang belum kelar, dan sikap mereka yang bossy, dingin, atau keliatan cuek ternyata cuma tameng. Kamu bakal ke-trigger dikit karena film ini pelan-pelan nunjukin gimana perasaan bersalah dan rasa gak layak bisa bikin kamu nyiksa diri sendiri tanpa sadar.

Hubungan mereka jadi menarik karena kamu bisa ngeliat proses yang gak instan, gak manis-manis doang, dan sering bikin awkward. Kamu mungkin bakal ngerasa kayak ngaca waktu ngeliat cara mereka ngehindar dari obrolan serius, atau tiba-tiba marah tanpa alasan jelas, padahal akar masalahnya ya trauma yang belum beres. Film ini secara halus nunjukin kalau kalau kamu gak berani hadapin masa lalu, kamu bakal terus kejebak: overthinking, takut dekat sama orang, dan ngerasa masa depan kamu otomatis gelap. Dan yang paling nyentil, My Bossy Girl kayak mau bilang ke kamu kalau minta bantuan itu bukan kelemahan, tapi justru langkah paling berani yang bisa kamu ambil buat berhenti hidup dalam bayang-bayang luka lama.

The Twists in “Forgotten”

Di antara film thriller Korea lain, kamu bakal ngerasa “Forgotten” itu kayak mimpi buruk yang dibalik-balik terus sampe kamu sendiri ragu sama ingatanmu. Setiap adegan, setiap dialog, pelan-pelan ngegiring kamu ke satu kesimpulan, lalu tiba-tiba semuanya dipatahkan sama plot twist brutal yang bikin kamu bengong. Yang bikin makin nusuk, kamu diajak masuk ke trauma karakter utama yang sebenarnya cuma pingin hidup normal, tapi kebohongan masa lalu dan rasa bersalah ngejerat dia tanpa ampun.

A killer’s mind

Alih-alih langsung nunjukin pembunuh kejam, “Forgotten” ngajak kamu pelan-pelan masuk ke kepala seorang pembunuh amatir yang pikirannya sudah hancur karena trauma. Kamu bakal ikut ngerasain gimana logika dia retak, gimana cara dia membenarkan tindakan paling berbahaya seolah itu hal paling wajar di dunia. Sampai di titik tertentu, kamu mungkin bakal nanya ke diri sendiri, apa kamu benci dia, atau malah kasihan sama dia.

Reality vs. illusion

Kalau biasanya kamu gampang bedain mana nyata dan mana halu, di “Forgotten” batas itu pelan-pelan ditarik sampe nyaris putus, bikin kamu ikutan ragu sama semua yang kamu lihat. Kamu diajak ngikutin sudut pandang tokoh yang hidup dalam ilusi berlapis, dan parahnya, ilusi itu tercipta dari trauma masa lalu yang gak pernah tuntas. Di titik tertentu, kamu bakal sadar kalau hal paling menakutkan di film ini bukan pembunuhnya, tapi pikiran yang gak bisa lagi percaya sama kenyataan.

Berbeda sama film lain yang cuma pakai halusinasi sebagai trik horor, di “Forgotten” ilusi itu nempel kuat sama rasa bersalah dan penyesalan, jadi bagian dari luka psikologis yang kamu rasa berat banget walau cuma nonton. Kamu bakal ngeliat gimana orang bisa menciptakan dunia palsu buat melindungi dirinya sendiri, lalu pelan-pelan dunia itu runtuh dan nyeret dia kembali ke kenyataan yang pahit banget. Dan di momen itu, kamu ikut kebayang gak, kalau otakmu sendiri suatu hari bisa begitu rapuhnya, sampe kamu gak yakin lagi mana hidupmu yang asli dan mana cuma cerita yang kamu buat biar sanggup bertahan?

Family Struggles in “Thread of Lies”

Di tengah tren film Korea yang makin berani ngomongin isu kesehatan mental, kamu bakal ngerasa “Thread of Lies” tuh relevan banget sama realita keluarga modern. Di sini kamu diajak ngeliat gimana satu rahasia dan satu keputusan tragis bisa mengobrak-abrik dinamika satu keluarga. Kamu bakal kepikiran, kalau itu kejadian di rumahmu sendiri, apa kamu bakal sanggup jaga keluargamu tetap utuh?

Loss and grief

Dalam “Thread of Lies”, kamu diajak duduk manis tapi hati kebanting-banting ngeliat keluarga yang kehilangan anak perempuan secara mendadak. Rasa bersalah, penyangkalan, sampai kemarahan numpuk di bawah atap yang sama, dan kamu pelan-pelan sadar kalau setiap anggota keluarga berduka dengan cara yang beda. Ini bikin kamu mikir, selama ini kamu beneran dengar keluh kesah orang rumah atau cuma pura-pura sibuk?

A fragile bond

Hubungan keluarga di film ini kelihatan rapi di luar, padahal di dalamnya serapuh kaca yang siap pecah kapan aja. Kamu bakal ngeh, kadang komunikasi di rumah cuma sebatas, “udah makan belum?” atau “PR udah selesai?” tanpa pernah nanya apa yang sebenernya ngehantui isi kepala masing-masing. Di titik itu, kamu mungkin ngerasa cermin film ini lagi ngadep tepat ke arah keluargamu sendiri.

Yang bikin bab “A fragile bond” makin nusuk adalah cara film nunjukin kalau retaknya hubungan keluarga itu jarang terjadi tiba-tiba, pelan-pelan, kecil-kecil, dari hal yang kamu anggap sepele. Kamu mungkin mikir, cuma becandaan, cuma omelan kecil, cuma diem-dieman sehari, padahal semuanya ngikis rasa percaya dan rasa aman di rumahmu sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya satu tragedi datang dan kamu baru sadar kalau fondasi keluargamu udah keropos sejak lama, cuma kamu terlalu sibuk dan terlalu takut buat ngakuin. Film ini bikin kamu nanya ke diri sendiri, “Selama ini aku beneran ada buat keluargaku, atau cuma numpang tinggal bareng mereka?”

The Reality of “Hope”

Belakangan, film yang mengulik kasus kekerasan seksual anak kembali ramai dibahas, dan “Hope” jadi salah satu judul yang paling sering kamu lihat di timeline. Di sini, kamu diajak ngeliat gimana keluarga berusaha berdiri lagi saat dunia anak kecil berusia 8 tahun hancur seketika. Rasanya gak nyaman, bikin sesak, tapi kamu justru makin paham betapa kejamnya realitas yang sering kamu baca sekilas di berita lalu lewat begitu saja.

Based on true events

Yang bikin kamu makin susah napas saat nonton, “Hope” ternyata diangkat dari kasus nyata yang pernah menggemparkan Korea Selatan. Jadi, tiap adegan penuh air mata itu kerasa sangat dekat ke dunia nyata kamu, bukan cuma karangan penulis. Ini bikin kamu harus hadapi fakta kalau kejahatan sekeji itu beneran terjadi, bukan cuma jadi bumbu drama di layar kaca.

Childhood trauma

Di “Hope”, kamu bakal ngeliat jelas gimana trauma masa kecil bisa mengubah seluruh hidup seseorang, bahkan sampai hal-hal yang paling sederhana. Dari cara kamu percaya pada orang lain, sampai gimana kamu memandang tubuh sendiri, semuanya bisa retak. Film ini kayak tamparan keras supaya kamu gak meremehkan kalimat, “anak kecil nanti juga lupa kok”.

Kalau kamu perhatiin, trauma masa kecil di “Hope” nunjukin kalau memori buruk itu numpuk pelan-pelan di kepala kamu, lalu tiba-tiba meledak pas ada pemicu kecil. Kamu mungkin kelihatan “baik-baik aja”, tapi tubuh dan pikiran kamu nyimpen jejak kekerasan itu dengan sangat detail, dari ketakutan disentuh sampai mimpi buruk yang gak kelar-kelar. Dan di sinilah pentingnya dukungan orang dewasa, terapi, lingkungan yang aman, supaya luka batin kamu gak dianggap drama, tapi sesuatu yang bener-bener harus ditangani dengan serius.

The Pain of “Love 911”

Banyak orang pikir Love 911 cuma romcom galau biasa, padahal kamu bakal diajak ngeliat trauma yang tajam dan nyesek. Lewat karakter petugas pemadam kebakaran, kamu pelan-pelan ngerti gimana rasa bersalah dan kehilangan bisa bikin hidup serasa berhenti di satu titik. Film ini nunjukin kalau kadang kamu keliatan kuat di luar, tapi di dalam hancur berantakan, dan butuh keberanian gila buat mau sembuh lagi.

Firefighter’s struggle

Sering kali kamu cuma lihat seragam gagah pemadam kebakaran, tapi lupa kalau mereka bawa beban mental yang berat banget. Di Love 911, kamu diajak ngikutin perjuangan seorang firefighter yang dihantui rasa bersalah atas kematian istrinya, tiap sirene bunyi kayak ngungkit luka yang sama. Di balik aksi penyelamatan yang bikin deg-degan, ada sisi rapuh yang bikin kamu mikir dua kali soal arti jadi pahlawan.

Love and loss

Banyak yang nganggep cinta otomatis nyembuhin semua luka, padahal di Love 911, kamu bakal lihat kalau cinta dan kehilangan jalan bareng dan kadang bikin hati tambah ribet. Di sini, kamu ngeliat gimana hubungan baru tumbuh di atas puing-puing duka yang belum beres, jadi bukan sekadar sweet-sweet ala drama biasa, tapi lebih ke proses kamu berani buka lagi pintu yang pernah kamu kunci rapat.

Di bagian Love and loss ini, kamu bakal sadar kalau perasaanmu ke orang baru gak selalu bersih dan rapi, kadang masih kecampur rasa bersalah sama masa lalu yang belum kelar. Kamu mungkin juga pernah ngerasa gitu, lagi sayang tapi masih keinget seseorang yang sudah pergi, dan film ini dengan halus tapi kejam nunjukin betapa menyakitkannya berdamai dengan memori yang gak mau hilang. Ada momen saat cinta terasa kayak penyelamat, tapi di detik berikutnya berubah jadi pengingat keras bahwa kamu pernah kehilangan sesuatu yang gak akan terganti. Dan di titik itu, kamu ditantang buat milih, mau terus bersembunyi di balik duka atau pelan-pelan ngasih ruang buat kebahagiaan baru masuk, meski resikonya kamu bisa kehilangan lagi.

Reaping the Fury in “I Saw the Devil”

Kebayang gak kalau kamu duduk sendiri tengah malam, nonton I Saw the Devil, lalu pelan-pelan sadar kalau dendam itu bisa lebih menghancurkan daripada pembunuh itu sendiri? Di sini, kamu ngikutin perjalanan seorang detektif yang kehilangan tunangannya secara brutal, lalu pelan-pelan tenggelam ke jurang balas dendam yang bikin kamu mikir, “Kalau kamu di posisi dia, kamu bakal sekejam itu juga gak?”

Revenge and madness

Di sepanjang film, kamu bakal diajak ngerasain gimana balas dendam pelan-pelan nyulik akal sehat kamu. Bukannya berhenti setelah si pelaku disiksa, sang detektif justru makin haus, makin kejam, makin gila. Kamu jadi sadar, ketika kamu biarin kemarahan nguasain diri, batas antara korban dan pelaku bisa kabur banget sampai kamu gak tau lagi mana yang masih manusia.

A shattered soul

Setiap langkah balas dendam di I Saw the Devil bikin jiwa sang detektif makin remuk, dan kamu bisa ngerasain itu. Kamu lihat gimana rasa bersalah, duka, dan marah ngegerus sisi paling lembut dalam diri kamu sampai yang tersisa cuma kehampaan. Bagian paling ngeri bukan cuma adegan sadisnya, tapi ketika kamu sadar, jiwa yang hancur itu bisa aja jadi cermin buat trauma kamu sendiri.

Kalau kamu perhatiin lebih dalam, bagian “A shattered soul” ini sebenarnya ngomong langsung ke rasa takut kamu sendiri terhadap kehilangan. Kamu mungkin pernah ngerasain, waktu trauma nyerang, kamu jadi pengen mukul balik dunia yang kamu anggap jahat sama kamu, kan? Di titik itu, film ini nunjukin sesuatu yang sangat berbahaya: begitu kamu ngebolehin trauma ngatur arah hidup, kamu pelan-pelan ngerelain empati, nurani, bahkan identitas kamu sendiri. Dan yang paling nyesek, ketika semuanya udah hancur, kamu baru sadar… pembalasan itu gak pernah benar-benar nyembuhin luka di dalam diri kamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *